Dari Langit Memantau Api, dari Darat Melawan Karhutla di OKI

IMG-20260905-WA0143

Lensa-Informasi.Com – OKI – Asap membumbung dari lahan gambut di Kabupaten Ogan Komering Ilir. Dari langit, titik api dipantau. Di bawahnya, petugas dan warga berjuang agar api tidak menjalar lebih luas.

Kapolres OKI AKBP Eko Rubiyanto, S.H., S.I.K., M.H., bersama Karo Ops Polda Sumsel Kombes Pol Muhammad Anis Prasetio Santoso, S.I.K., M.Si., memantau sejumlah titik api di wilayah OKI melalui udara, Sabtu, 5 September 2026.

Mereka menggunakan helikopter AW 169/P-3308 yang lepas landas dari Lapangan Pakri, Palembang. Pemantauan udara dilakukan untuk melihat sebaran titik panas dan kondisi lahan yang terbakar dari cakupan yang lebih luas.

Sementara di darat, Wakapolres OKI Kompol Hamsal memimpin jajaran Polres OKI dan Polsek Tanjung Lubuk. Mereka bersama TNI, BPBD, Manggala Agni, dan masyarakat memadamkan kebakaran di lahan gambut Desa Pangarayan, Kecamatan Tanjung Lubuk.

Medan di lapangan tidak selalu bersahabat. Sumber air yang sulit, lokasi kebakaran yang sulit dijangkau, serta keterbatasan sinyal komunikasi menjadi sejumlah kendala yang dihadapi tim gabungan.

Petugas harus mencari sumber air yang tersedia, menempuh medan yang tidak mudah, sekaligus menjaga komunikasi di tengah keterbatasan jaringan. Namun hambatan itu tidak menyurutkan langkah mereka.

Tim gabungan tetap bergerak, menyisir lokasi dan melakukan pemadaman serta pendinginan. Api yang terlihat padam pun kembali diperiksa karena bara di lahan gambut dapat bertahan di bawah permukaan dan sewaktu-waktu menyala kembali.

Kapolres OKI AKBP Eko Rubiyanto mengatakan pemantauan dari udara menjadi bagian dari upaya mempercepat pemetaan titik api dan menentukan langkah penanganan.

“Kami ingin memastikan setiap titik api terpantau dan ditangani. Penanganan karhutla membutuhkan kerja bersama. Keselamatan personel tetap menjadi prioritas,” kata nya

Ia mengapresiasi semangat personel gabungan dan masyarakat yang tetap berada di lapangan meski menghadapi berbagai keterbatasan.

“Medan boleh sulit, sumber air terbatas, dan komunikasi tidak selalu lancar. Namun semangat untuk memadamkan api tidak boleh padam,” ujarnya.

Ia juga mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar. Kebakaran di lahan gambut berpotensi meluas dan membutuhkan waktu lebih lama untuk dipadamkan.

Hari itu, perang melawan karhutla berlangsung dari dua arah: dari udara untuk menemukan titik api, dan dari darat untuk menjinakkannya.(Red).