Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin XI Terima Penghargaan ABRI-1, Tegaskan Hari Kesaktian Pancasila Jangan Sekadar Seremoni

IMG-20261004-WA0086

Lensa-Informasi.com.Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin, Sultan Palembang Darussalam ke-XI, menerima penghargaan dari Amanah Bangsa Rakyat Indonesia Bersatu (ABRI-1) atas dedikasi dan kontribusinya dalam menjaga, melestarikan serta mengembangkan nilai-nilai adat, sejarah, seni dan budaya Sumatera Selatan, Jumat (2/10/2026).

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Ketua DPP ABRI-1, Irjen Pol (P) Napoleon Bonaparte, didampingi Ketua DPD ABRI-1 Sumatera Selatan, Salmi Heryani.

Acara tersebut turut dihadiri Kepala Kesbangpol Sumsel Drs. H. Arinarsa JS yang mewakili Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, perwakilan Kapolda Sumatera Selatan, perwakilan Pangdam II/Sriwijaya, serta sejumlah tokoh masyarakat dan tamu undangan lainnya.

Pemberian penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi terhadap konsistensi Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin dalam menjaga warisan leluhur serta memperkuat nilai-nilai kebudayaan yang menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Sumatera Selatan, khususnya Palembang.

Momentum tersebut juga menjadi bagian dari refleksi memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Sultan menegaskan, peringatan Hari Kesaktian Pancasila jangan hanya menjadi kegiatan seremonial yang dilakukan setiap tahun, tetapi harus menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan bangsa sekaligus kondisi masyarakat saat ini.

Menurut Sultan, nilai-nilai Pancasila harus benar-benar diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila tidak cukup hanya diucapkan dalam upacara, tetapi harus tercermin melalui kebijakan, keadilan, kepedulian, persatuan dan kesejahteraan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Jangan sampai Hari Kesaktian Pancasila hanya menjadi seremoni belaka. Pancasila harus benar-benar hidup dalam kehidupan masyarakat. Nilai-nilainya harus diwujudkan melalui keadilan, persatuan, kepedulian dan keberpihakan kepada rakyat,” tegas Sultan.

Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin juga menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang menurutnya saat ini menghadapi berbagai tantangan dan persoalan. Ia menilai kondisi masyarakat, khususnya rakyat kecil, harus menjadi perhatian utama.

Menurutnya, perjuangan para pahlawan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan tidak boleh hanya dikenang melalui upacara dan simbol-simbol sejarah. Kemerdekaan harus mampu memberikan kehidupan yang lebih baik dan manfaat nyata bagi seluruh rakyat Indonesia.

Rakyat kecil jangan sampai hanya menjadi penonton. Mereka juga harus menikmati hasil dari perjuangan kemerdekaan yang telah dilakukan para pahlawan. Kemerdekaan harus dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.

Sultan juga menyoroti perkembangan teknologi dan media sosial yang begitu cepat. Menurutnya, di era keterbukaan informasi seperti sekarang, pemerintah perlu membangun komunikasi yang sehat dengan masyarakat serta mendengarkan aspirasi dan keluhan rakyat.

“Di zaman media sosial seperti sekarang, pemerintah harus lebih bijak memberikan arahan kepada rakyat. Jangan sampai masyarakat justru semakin terpecah karena informasi yang tidak jelas. Pemerintah harus hadir memberikan edukasi, ketenangan dan solusi agar Indonesia bisa menjadi lebih baik,” tegasnya.

Selain persoalan kebangsaan, Sultan menekankan pentingnya pelestarian adat dan budaya sebagai bagian dari upaya menjaga identitas bangsa. Budaya daerah bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan kekayaan bangsa yang harus terus dirawat dan diwariskan kepada generasi muda.

Menjaga budaya berarti menjaga jati diri bangsa. Kita boleh mengikuti perkembangan zaman, tetapi jangan sampai kehilangan akar sejarah dan identitas kita,” pungkas Sultan.

Penghargaan dari ABRI-1 tersebut diharapkan menjadi motivasi bagi seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga adat, sejarah, seni dan budaya Sumatera Selatan, sekaligus memperkuat persatuan sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Semangat memperingati Hari Kesaktian Pancasila pun diharapkan tidak berhenti pada seremoni tahunan, tetapi diwujudkan melalui kepedulian, persatuan, keadilan dan keberpihakan terhadap masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. (Basith)