KWT Embun Pagi Olah Singkong Jadi Mocaf, Dorong Ekonomi Warga Simpang Bayat

IMG-20260917-WA0181-768x576

Lensa-Informasi.Com – BAYUNG LENCIR – Singkong yang selama ini identik sebagai komoditas dengan harga jual rendah mulai dikembangkan menjadi produk bernilai tambah di Desa Simpang Bayat, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin.

Melalui Rumah Produksi Kelompok Wanita Tani (KWT) Embun Pagi di Dusun Selaro, hasil kebun masyarakat diolah menjadi tepung mocaf (Modified Cassava Flour). Fasilitas tersebut resmi diresmikan pada Kamis, 17 September 2026.

Kehadiran rumah produksi ini menjadi bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat sekaligus penguatan ekonomi desa berbasis potensi lokal.

Program tersebut merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Desa Simpang Bayat, Pemerintah Kecamatan Bayung Lencir, dan PHE Jambi Merang di bawah Pertamina Hulu Rokan Zona 1.

Kolaborasi tidak hanya diwujudkan melalui pembangunan fasilitas produksi, tetapi juga pendampingan, penyediaan peralatan, peningkatan kapasitas anggota kelompok hingga pengembangan produk.

Peresmian ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Field Manager PHE Jambi Merang R. Satrio Nursabdo bersama Camat Bayung Lencir Zukar, SKM., M.Si.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Sekcam Bayung Lencir Aka Anggara Saputra, S.STP., M.Si., Kepala Desa Simpang Bayat Fathurohman, S.E., jajaran pemerintah desa, Ketua KWT Embun Pagi Riyanti beserta anggota, tim Community Involvement & Development dan Corporate Communication PHE Rokan Zona 1, penyuluh pertanian, insan pers, tokoh masyarakat serta tamu undangan.

Bagi anggota KWT Embun Pagi, rumah produksi tersebut bukan sekadar fasilitas baru. Keberadaannya diharapkan menjadi titik awal untuk mengembangkan hasil pertanian masyarakat menjadi sumber pendapatan yang lebih baik.

Ketua KWT Embun Pagi, Riyanti, menyampaikan apresiasi atas dukungan berbagai pihak terhadap pengembangan kelompoknya.

“Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah hadir dan memberikan dukungan. Khususnya kepada tim PHE Jambi Merang yang selama ini telah bekerja sama dan memberikan berbagai bantuan kepada KWT Embun Pagi,” ujar Riyanti.

Menurutnya, pendampingan yang diberikan tidak hanya berupa bantuan fasilitas, tetapi juga membantu anggota kelompok memahami cara mengelola potensi singkong agar lebih produktif.

Ia berharap keberadaan rumah produksi dapat menjadi awal pengembangan usaha yang lebih serius, sehingga mampu meningkatkan pendapatan anggota KWT sekaligus memberikan dampak positif bagi petani singkong di Desa Simpang Bayat.

“Kami berharap produk kami bisa dikenal tidak hanya di daerah sendiri, tetapi juga di daerah lain. Kami mohon terus diberikan bimbingan, pembinaan dan dukungan,” katanya.

Selama ini, produksi singkong di wilayah tersebut cukup melimpah. Namun, harga bahan baku yang relatif rendah menjadi salah satu tantangan yang dihadapi petani.

Kondisi tersebut mendorong KWT Embun Pagi bersama PHE Jambi Merang mengembangkan pengolahan singkong menjadi tepung mocaf.

Melalui proses fermentasi, pengeringan hingga penggilingan, singkong yang sebelumnya dijual sebagai bahan mentah diarahkan menjadi produk olahan dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Penguatan program juga dilakukan pada aspek kualitas produksi, pengolahan, pengemasan hingga pemasaran. Dengan demikian, rumah produksi diharapkan tidak hanya menjadi tempat menghasilkan produk, tetapi juga mampu membangun rantai usaha yang memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat Desa Simpang Bayat.

Dengan pemanfaatan potensi lokal tersebut, KWT Embun Pagi kini memiliki peluang untuk mengembangkan singkong dari komoditas bahan mentah menjadi produk unggulan desa yang memiliki nilai tambah dan pasar yang lebih luas.

Dikatakan,Kepala Desa Simpang Bayat, Fathurohman,S,E.”pengembangan rumah produksi tersebut merupakan bagian dari langkah pemerintah desa dalam mengangkat potensi ekonomi yang sudah dimiliki masyarakat.

Menurutnya, warga sebelumnya telah memiliki pengalaman mengolah singkong, termasuk memproduksi tepung mocaf. Kehadiran fasilitas produksi yang lebih memadai diharapkan membuat proses tersebut berkembang dari usaha masyarakat menjadi kegiatan ekonomi yang lebih terarah.

“Singkong yang digunakan berasal dari masyarakat lokal Desa Simpang Bayat. Kemudian diolah menjadi tepung dan dapat dikembangkan lagi menjadi berbagai produk makanan,” jelas Fathurohman.

Ia memberikan apresiasi terhadap dukungan PHE Jambi Merang yang membantu pembangunan rumah produksi, penyediaan peralatan serta pelatihan bagi masyarakat.

Fathurohman berharap produk olahan singkong tersebut tidak berhenti sebagai komoditas khas desa, tetapi mampu memasuki pasar yang lebih luas.

“Harapan kami, produk olahan dari Desa Simpang Bayat ini tidak hanya menjadi produk lokal, tetapi dapat dipasarkan lebih luas dan memiliki nilai ekonomi yang semakin baik,” ujarnya.

Menurutnya, pengembangan tepung mocaf juga menunjukkan bahwa desa dapat membangun kekuatan ekonomi melalui sumber daya yang tersedia di lingkungannya sendiri.(Miril).