Februari 21, 2026

 

 

Lensa-informasi.com |Lebak – Proyek jalan konektivitas ruas Cikeusik–Simpang Cijaku memanas lagi. Setelah muncul aduan warga, ditemukan retakan parah pada rigid beton di sejumlah titik di lokasi proyek, yang mencurigakan kuat adanya penggunaan material tidak sesuai standar.

 

Peninjauan langsung ke lapangan di Kampung Cikeusik Timur, Malingping Selatan, dan Mekarsari, Sukaraja, menunjukkan kondisi memprihatinkan. Rigid beton yang baru beberapa hari selesai dibangun ini sudah banyak retak memanjang, bahkan tembus ke dasar, dengan permukaan bergelombang dan lebar plat tidak sesuai spesifikasi. Ironisnya, kualitas beton diduga berasal dari ready mix yang tidak memenuhi standar teknis dan RAB, sementara pengawas teknis terlihat hadir di lapangan namun tampaknya gagal mengantisipasi masalah ini.

 

Hampir 14 titik retakan telah terdeteksi di sepanjang jalur proyek. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap daya tahan dan keamanan konstruksi yang seharusnya memenuhi standar mutu dan ketahanan jangka panjang.

 

“Baru beberapa hari selesai, tapi sudah retak mulai dari pinggiran hingga ke dasar, ini menunjukkan material dan pelaksanaan yang bermasalah. Kami takut dalam waktu dekat, kerusakannya bisa makin meluas dan mempercepat kerusakan permanen,” ungkap salah satu warga setempat yang enggan disebutkan identitasnya.

 

Ketua Ikatan Mahasiswa Cilangkahan (IMC), Hendrik Arrizqy, S.Kom, secara tegas menduga retakan tersebut akibat penggunaan material ready mix di luar standar mutu. Ia juga menyoroti proses pelaksanaan yang diduga tidak sesuai prosedur, mulai dari curing beton, ketebalan Lean Concrete, hingga lapisan dasar jalan yang tidak dilakukan secara optimal.

 

Hendrik menyerukan agar pihak pelaksana dan instansi terkait segera lakukan evaluasi menyeluruh terhadap proyek ini. Ia pun menuntut transparansi penuh melalui konferensi pers resmi atau surat audiensi agar masyarakat mendapat penjelasan lengkap terkait standar dan kualitas pelaksanaan.

 

“Ini proyek dana negara, harus transparan dan sesuai standar agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat. Jangan sampai bangunan yang seharusnya memperkuat konektivitas justru menjadi sumber masalah di kemudian hari,” tegas Hendrik.

 

Editor : whili