KETIKA JALAN NASIONAL MENGANGA: Air Sebakul, Cermin Retak Tata Kelola Kita
KETIKA JALAN NASIONAL MENGANGA: Air Sebakul, Cermin Retak Tata Kelola Kita. 8 juli 2026. (Foto : Lensa-informasi)
BENGKULU, Lensa-informasi – Ada luka yang tidak berdarah. Ada kerusakan yang tidak bersuara. Tapi di Air Sebakul, ia menganga lebar-lebar.
Di atas kertas, ini adalah Jalan Nasional. Jalur nadi. Jalur kehormatan negara. Tempat logistik bergerak, ekonomi bernafas, dan wajah Bengkulu dipertaruhkan di mata dunia.
Tapi di lapangan?
Yang kita lihat adalah penghinaan.
Beton penutup drainase ambrol. Aspal mengupas. Lubang besar menganga seperti luka yang dibiarkan membusuk. Di dalamnya, sampah dan batu berserakan, seakan menjadi monumen atas kelalaian.
Tidak ada rambu. Tidak ada pagar. Tidak ada tanda bahwa negara hadir di sini.
Yang ada hanya doa dari para pengendara motor setiap kali mereka melintas: “Semoga tidak jatuh di sini.”
Ironis.
Kita bicara soal pembangunan infrastruktur kelas dunia. Kita bicara soal IKN, tol, dan bandara.
Tapi di ibu kota provinsi sendiri, di jalur vital menuju pelabuhan, negara gagal menjaga hal paling dasar: keselamatan rakyatnya.
Ini bukan sekadar jalan rusak.
Ini adalah cermin. Cermin retak dari tata kelola kita.
Ketika anggaran ada, tapi perawatan tidak.
Ketika proyek diresmikan, tapi dilupakan.
Ketika pejabat sibuk seremonial, sementara rakyat bertaruh nyawa di jalan.
UU Jalan sudah jelas. Jalan Nasional adalah tanggung jawab negara. BPJN Bengkulu punya kewenangan penuh di sini.
Maka pertanyaannya tidak lagi “kapan diperbaiki?”
Pertanyaannya adalah: “Sampai kapan kami harus menunggu korban?”
Warga Air Sebakul tidak butuh janji.
Mereka butuh aspal. Butuh beton. Butuh bukti bahwa pajak yang mereka bayar tidak menguap begitu saja.
Karena jalan yang baik bukan hadiah.
Ia adalah hak.
Dan ketika hak itu diabaikan, maka diam kita adalah bentuk pengkhianatan.
#BPJN_BENGKULU
#KEMENTRIANPUPR
#KEJAKSAANAGUNG
#PRESIDEN_RI
Wartawan : Rizki triyanto