Reuni Akbar dan Silaturahmi Paguyuban Wong Lugu Peringati Tahun Baru Islam 1448 H dan Haul ke-8 Almarhum Mbah Sa’im

IMG-20260616-WA0003

Lensa-Informasi Com – OGAN KOMERING ILIR – Paguyuban Wong Lugu (PWL) menggelar Reuni Akbar dan Silaturahmi dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1448 Hijriah sekaligus Haul ke-8 Almarhum Mbah Sa’im.

Kegiatan berlangsung khidmat di halaman Pedepokan Paguyuban Wong Lugu, Desa Dabuk Rejo, Kecamatan Lempuing, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, Senin (25/06/2026).

Ribuan warga dan sedulur Paguyuban Wong Lugu dari berbagai daerah hadir memadati lokasi kegiatan.

Acara tersebut mengusung tema berbahasa Jawa yang sarat makna sosial dan kemanusiaan, yakni “Wenehono tongkat marang wongkang wuto, wenehono pangan marang wongkang keluwen, wenehono sandang marang wongkang kawudan, wenehono payung marang wongkang kehujanan.”

Tema tersebut mengandung pesan agar sesama manusia saling membantu, memberi manfaat, dan memberikan perlindungan kepada mereka yang membutuhkan.

Wakil  Panitia, Buhairi, S.Pd, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh warga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), anggota Paguyuban Wong Lugu, serta seluruh pihak yang telah mendukung dan menyukseskan kegiatan tahunan tersebut.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh sedulur yang telah hadir dan membantu terselenggaranya acara ini.

Apabila dalam penyambutan maupun pelaksanaan kegiatan masih terdapat kekurangan, kami atas nama panitia memohon maaf yang sebesar-besarnya.

Semoga ke depan kita tetap kompak, solid, dan terus menjaga persaudaraan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Paguyuban Wong Lugu, Suroto, mengajak seluruh anggota untuk senantiasa mensyukuri nikmat kesehatan yang diberikan Tuhan sehingga dapat kembali berkumpul dalam suasana penuh kebersamaan.

“Pada malam ini kita diberikan nikmat kesehatan sehingga dapat melaksanakan peringatan 1 Suro sekaligus haul Almarhum Mbah Sa’im. Mari kita berkaca pada diri masing-masing dan menjalankan ajaran yang telah diwariskan beliau, yakni menjaga tali silaturahmi, mempererat persaudaraan, serta menjaga marwah organisasi,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Kapolsek Lempuing AKP Syafaruddin, SH, mengingatkan pentingnya menjaga persatuan dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum jelas kebenarannya, terutama yang beredar melalui media sosial.

“Negara kita besar dan memiliki keberagaman yang harus dijaga bersama. Jangan mudah terpancing oleh isu-isu yang dapat memecah belah persatuan. Saya berpesan kepada seluruh masyarakat agar tidak mudah mempercayai berita yang belum tentu benar di media sosial.

Paguyuban Wong Lugu harus terus dijaga sebagai wadah yang memberikan manfaat bagi keluarga dan masyarakat,” tegasnya.

Senada dengan itu, Camat Lempuing Jamhari Ilyas, S.Sos., M.M., mengajak seluruh peserta untuk terus mendoakan para orang tua dan leluhur yang telah mendahului.

“Kehadiran kita malam ini bukan hanya untuk bersilaturahmi, tetapi juga mendoakan orang tua dan para pendahulu kita.

Organisasi ini merupakan salah satu organisasi yang mampu bertahan dan berkembang hingga saat ini.

Oleh karena itu, manfaatkan momentum silaturahmi ini untuk memperkuat kebersamaan dan menjaga keberlangsungan organisasi yang kita cintai,” ujarnya.

Jamhari juga mengapresiasi eksistensi Paguyuban Wong Lugu yang terus berkembang dan menjadi wadah persaudaraan bagi masyarakat lintas daerah.

Menurutnya, organisasi yang mampu bertahan selama puluhan tahun merupakan aset sosial yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dalam tausiyahnya, Kyai H. Bodro Suttrisno menjelaskan makna mendalam dari tema yang diangkat dalam kegiatan tersebut.

Menurutnya, kalimat berbahasa Jawa tersebut bukan hanya bermakna harfiah, melainkan mengandung filosofi kehidupan yang sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.

Beliau menjelaskan bahwa kalimat “Wenehono tongkat marang wongkang wuto” bukan sekadar memberikan tongkat kepada orang yang tidak dapat melihat, melainkan memberikan ilmu, arahan, dan pegangan hidup kepada mereka yang masih minim pengetahuan agar mampu menentukan langkah yang benar dalam kehidupan.

Sedangkan makna “Wenehono pangan marang wongkang keluwen” tidak hanya berkaitan dengan makanan fisik, tetapi juga kebutuhan ilmu pengetahuan dan wawasan di era digital.

Menurutnya, banyak masyarakat yang memiliki akses teknologi namun belum mampu memanfaatkannya secara optimal untuk meningkatkan kualitas hidup.

“Di era sekarang dunia seolah berada dalam genggaman. Melalui telepon genggam kita dapat memperoleh berbagai informasi dan pengetahuan.

Namun apabila tidak dimanfaatkan dengan baik, teknologi justru dapat memberikan dampak negatif,” jelasnya.

Selanjutnya, makna “Wenehono sandang marang wongkang kawudan” diartikan sebagai ajakan untuk menjaga kehormatan sesama manusia dengan tidak mudah membuka aib maupun kesalahan orang lain.

“Jangan mudah membicarakan keburukan orang lain. Kebaikan seseorang akan terlihat ketika ia mampu menjaga lisannya. Manusia akan dihargai apabila mampu menghormati dan menjaga martabat sesamanya,” tuturnya.

Adapun makna “Wenehono payung marang wongkang kehujanan” dimaknai sebagai kewajiban memberikan perlindungan kepada orang lain sesuai peran masing-masing.

“Seorang kepala keluarga harus mampu melindungi keluarganya. Ketua RT harus melindungi warganya, kepala desa melindungi masyarakatnya, dan setiap pemimpin memiliki tanggung jawab memberikan rasa aman kepada yang dipimpinnya,” tambahnya.

Rangkaian kegiatan berlangsung penuh kekhidmatan dan diisi dengan doa bersama, silaturahmi antaranggota, serta refleksi spiritual menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.

Para peserta berharap nilai-nilai persaudaraan, gotong royong, dan kepedulian sosial yang diwariskan Almarhum Mbah Sa’im dapat terus dijaga dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui kegiatan tersebut, Paguyuban Wong Lugu kembali menegaskan komitmennya untuk menjadi wadah pemersatu masyarakat, menjaga tradisi luhur, mempererat persaudaraan, serta menumbuhkan semangat saling membantu demi kemaslahatan bersama.(Red).